December, 2005

Mengenakan Sepatu Di Kepala

Menjadi kaya dan terkemuka adalah dambaan setiap orang. Baik kaya di luar maupun di dalam, atau keduanya. Yang jelas, kaya dan terkemuka sudah dan akan terus menjadi semacam garis finis yang dikejar. Sebagai energi pemacu prestasi, tentu saja ini banyak gunanya. Demikian pula, bila ingin mengisi kehidupan secara amat berguna, kaya dan terkemuka tentu saja sebuah referensi bermakna. Banyak guru sepakat, tidak ada yang keliru dalam keinginan untuk menjadi kaya dan terkemuka. Ini teramat manusiawi.
Pertanyaannya, bisakah semua manusia kaya dan terkemuka? Ada hukum alam yang tidak memungkinkan semua orang menjadi kaya dan terkemuka. Ia seperti berharap hari-hari hanya berisi siang tanpa malam. Berharap agar semua wanita lembut, atau agar semua pria penyayang. Siapa pun akan menjawab pelan, Tidak mungkin! Ada sejumlah hal dalam hidup manusia memang tidak bisa dipilih. Salah satunya bernama hukum alam. Siang berganti malam, musim panas berganti musim hujan, setelah terbit matahari kemudian tenggelam. Satu-satunya pilihan yang tersedia untuk hal ini hanya menerimanya dengan penuh keikhlasan. Semakin keras manusia melawan hukum alam, semakin sering penderitaan berkunjung sebagai tamu kehidupan. Ada memang manusia yang pekerjaannya melawan, melawan dan hanya melawan. Dan tentu layak dihormati sebagai pilihan pribadi yang akan dipertanggungjawabkan kemudian.
Sebagian dari yang melawan ini masih melawan, sebagian sudah lelah dan menyerah, sebagian lagi sudah membuka pintu-pintu keikhlasan. Sebagaimana hukum alam yang hanya mengenal hukum mengalir, tidak disarankan terlalu banyak menghakimi orang yang sedang berjalan di jalur lain.
Pecinta keikhlasan tidak disarankan menghakimi para pejuang hidup yang masih melawan. Pejuang yang masih melawan juga serupa, tidak disarankan memandang rendah sahabat yang sudah menyerah. Semua ada tempat dan waktunya. Biarkan semua mengalir dalam ritme masing-masing. Seperti air di sungai, sejauh atau sedekat apa pun, sederas atau selambat apa pun
kecepatannya, semua air sungai akan sampai di laut. Maka, dalam sekelumit cerita Zen, ada murid yang bertanya tentang berapa lama waktu yang diperlukan untuk mengalami pencerahan. Dengan sabar dijawab gurunya, Tiga puluh tahun. Murid tadi bertanya balik, Bisa t idak dipercepat? Sang guru pun menjawab lebih sabar, Kalau mau lebih cepat menjadi 50 tahun. Silakan mengart ikannya sendiri-sendiri. Yang jelas, demikianlah hukum alam. Ada masa, waktu dan tempat yang semuanya sudah diatur sedemikian sempurna. Setiap upaya untuk mencampuri kesempurnaan terakhir dengan hawa nafsu misalnya, maka wajah kesempurnaan tadi mudah sekali terganggu. Dalam upaya berpelukan sempurna dengan hukum alam inilah, salah seorang guru pernah memberi salah satu judul bab bukunya dengan Ordinary Love and the Love of a Buddha. Masih dalam bahasan guru ini, cinta orang biasa adalah melakukan cinta (doing). Sehingga mengenal siklus naik-turun, ingat-lupa, semangat-lesu. Namun cinta orang luar biasa, serupa dengan bernapas (being). Perhatikan salah satu kesimpulannya yang menyentuh: Love is just like breathing, it is a higher plane of breathing. If you do not breathe, your body will die. I f you are not in love, your spirit can not be born. Cinta sesederhana bernapas. Bila tidak bernapas, tubuh mati. Bila gagal hidup dalam cinta, maka spirit mana pun tidak akan pernah terlahir. Terinspirasi dari sinilah, kemudian tidak sedikit orang yang berpelukan dengan hukum alam di jalan-jalan cinta. Ibu rumah tangga melakukannya dengan mencintai suami dan anak-anak di rumah. Pekerja  mencintai pekerjaannya. Pengusaha mencintai karyawannya. Pendoa mencintai doanya. Sehingga bisa dimaklumi, kalau dalam sepenggal cerita sufi ada yang berbisik, Buku suci perilakunya seperti calon pengantin wanita. Hanya membuka baju pada calon suaminya! Dan langkah- langkah cinta alami adalah salah satu langkah terbaik untuk membuat buku suci kehidupan membuka bajunya buat mansusia. Dalam terang cahaya seperti ini, sebenarnya tidak ada kegelapan dalam kehidupan. Bahkan kegelapan itu sendiri hanyalah keadaan yang membuat semakin terangnya setiap cahaya. Dipeluk oleh kedalaman pemahaman seperti ini, seorang sahabat pernah bertutur tentang manusia yang mengenakan sepatu di kepala. Tentunya, mudah mengundang tawa dan canda. Lebih dari sekadar tawa dan canda, ini merupakan sebuah gerakan keluar dari tatanan kosmik. Ada hukum alam yang diganggu di sana. Yang mengenakan sepatu di kepala terganggu, yang melihat juga terganggu. Siapa saja yang dirinya merasa terganggu, dan orang terganggu karena melihatnya, maka sebenarnya dia sedang mengenakan sepatu di kepala (baca: melawan hukum alam). Dan semua tahu konsekuensinya. Yang jelas dalam tradisi tua Tantra dikenal prinsip sederhana: Tantra is a total acceptance of things as they are. Dalam tradisi yang berumur lima ribu tahun ini, bahkan seks sekalipun dipandang sebagai langkah penyucian. Tantra memang mulai dari seks, kemudian berevolusi menjadi cinta (love) dan berakhir dengan persembahan (devotion). Adakah sahabat yang tertarik dengan Tantra yang menerima semuanya apa adanya?